Untuk siapa
Untuk mahasiswa, pelajar, dan penulis esai berbahasa Indonesia yang ingin memperbaiki keterbacaan dengan gaya akademik, terutama ketika draf terasa seperti terjemahan harfiah, terlalu bertele-tele, atau belum menunjukkan hubungan yang jelas antara pendapat dan bukti.
Mulai dari tesis dan fungsi setiap paragraf
Sebelum mengubah kalimat, tulis ulang tesis esai dalam satu kalimat kerja. Misalnya, apakah Anda sedang mempertahankan kebijakan pembatasan kendaraan kampus atau mengevaluasi kelemahannya? Periksa apakah setiap paragraf mengembangkan posisi tersebut melalui klaim, bukti, dan penjelasan. Paragraf yang hanya mengulang topik tidak akan membaik hanya dengan bahasa yang lebih halus.
Tandai kalimat pembuka yang terlalu luas, seperti “Pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia.” Ganti dengan persoalan yang benar-benar dibahas, selama draf memiliki dasar pendukungnya. Jangan menambahkan masalah, teori, atau temuan baru hanya agar pembukaan terdengar meyakinkan.
Saat meminta bantuan revisi, jelaskan batasnya: “Rapikan bahasa menjadi akademik yang wajar; pertahankan tesis, urutan argumen, angka, dan sitasi; jangan tambahkan fakta.” Setelah menerima hasil, bandingkan fungsi tiap paragraf dengan draf. Jika kritik berubah menjadi dukungan, revisi telah menggeser argumen meskipun kalimatnya lebih lancar.
Gunakan bahasa Indonesia akademik yang lugas
Gaya akademik tidak mengharuskan semua kalimat berbentuk pasif atau penuh nominalisasi. “Mahasiswa melakukan pengajuan permohonan” biasanya dapat dipadatkan menjadi “mahasiswa mengajukan permohonan”. Namun, bentuk pasif tetap berguna ketika proses atau objek penelitian lebih penting daripada pelakunya. Pilih berdasarkan fokus pembahasan, bukan aturan otomatis.
Waspadai penghubung yang menyerupai terjemahan langsung. Kata “di mana” sebaiknya tidak dijadikan penghubung serbaguna; pisahkan kalimat atau gunakan hubungan yang tepat, seperti “yang”, “karena”, dan “sehingga”. Pastikan hubungan sebab-akibat memang didukung bukti sebelum memilih “sehingga”.
Pertahankan istilah bidang yang sudah didefinisikan. Mengganti “validitas” dengan “kebenaran” dapat mengubah konsep metodologis. Periksa ejaan melalui KBBI dan pedoman EYD yang berlaku, lalu ikuti panduan kampus untuk istilah asing, penulisan judul, dan gaya rujukan. Hindari memaksakan variasi kata jika konsistensi justru membantu pembaca.
Periksa fakta, sitasi, dan batas bantuan AI
Lakukan pemeriksaan terpisah untuk bahasa dan substansi. Pada pemeriksaan substansi, cocokkan nama penulis, tahun, halaman, tanggal, jumlah peserta, satuan, serta ukuran yang tercantum dengan sumber asal. Jangan mengubah “berkaitan dengan” menjadi “menyebabkan”, atau memperluas hasil satu kelas menjadi gambaran seluruh mahasiswa. Kutipan langsung harus tetap sama; jika diparafrasekan, hilangkan tanda petik dan tetap cantumkan rujukan sesuai aturan.
Pastikan setiap sitasi mendukung kalimat tempatnya melekat dan memiliki pasangan dalam daftar pustaka. Jika sumber belum ditemukan, tandai untuk ditelusuri, bukan dilengkapi dengan referensi rekaan.
Sebelum menggunakan Humanizely, periksa kebijakan dosen atau institusi. Ada tugas yang mengizinkan penyuntingan bahasa, tetapi melarang pembuatan isi. Ungkapkan bantuan AI apabila diwajibkan, termasuk bagian yang dibantu dan pemeriksaan yang Anda lakukan. Simpan kerangka, catatan bacaan, serta riwayat draf sebagai dokumentasi proses penulisan orisinal.